Fenomena mabuk agama. Apa itu mabuk agama? dan bagaimana seseorang bisa mabuk agama?

Fenomena mabuk agama di Indonesia 

Dalam satu riwayat diceritakan, setelah perang Badar Nabi Muhammad (saw) berkata, kita kembali dari perang kecil ke perang besar.

Seorang teman bertanya tentang perang besar tersebut. Bukankah Badar adalah perang besar yang dihadapi umat Islam saat ini? Nabi Muhammad menjawab, “Perang besar adalah perang melawan hawa nafsu.

Nafsu adalah keinginan, kecenderungan dan dorongan yang sangat kuat. Dorongan untuk melakukan hal-hal yang kurang baik. Keinginan orang itu berbeda-beda. Keinginan yang berlebihan disebut ambisi.

Ambisi yang berlebihan membuat orang menjadi gila. Ada gila tahta, gila harta. gila wanita dan lain-lain. Proses menuju kegilaan disebut "mabuk". Mabuk di atas takhta. Mabuk harta, mabuk wanita dan mabuk lainnya.

 

Apa itu mabuk agama 

Belakangan ada orang yang mabuk agama. Sebelum membahas lebih jauh, apa sebenarnya mabuk itu? Mabuk dalam arti umum adalah keadaan mabuk akibat konsumsi alkohol sampai pada kondisi dimana terjadi penurunan kemampuan mental dan fisik.

Gejala umum termasuk bicara tidak jelas, keseimbangan kacau, koordinasi yang buruk, wajah pucat, mata merah, dan perilaku aneh lainnya. Namun jika ditelaah secara mendalam dalam filsafat dan agama, mabuk berarti tidak memahami apa yang dilakukan melainkan dalam keadaan sadar.

Mabuk agama adalah perilaku seseorang dalam mengamalkan ajaran agama secara berlebihan sehingga mengabaikan akal sehat. Mereka seperti over dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama. Ini karena pemahaman mereka tentang agama sangat dangkal. Misalnya, orang mengira bahwa tanda hitam dalam jidad adalah ciri orang yang bertakwa.

 Benarkah? Tentu, bukan jaminan. Kesalehan seseorang ditentukan oleh perbuatan, keikhlasan, dan ketulusan. Justru dengan menandai tanda hitam dalam jidad mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan riya, ujub dan takabur.

 

Berikut beberapa fenomena mabuk beragama yang ada di masyarakat. 

Fenomena sosial yang mencerminkan pendangkalan pemahaman, persepsi dan pengamalan agama.

 

Pertama, gerakan takfiri.

Takfiri adalah sebutan bagi seorang Muslim yang menuduh Muslim lain (atau terkadang juga termasuk penganut ajaran semu agama lainnya) sebagai kafir dan murtad.

Perbuatan menuduh Muslim lain sebagai “kafir” telah menjadi bentuk penghinaan, yaitu seorang Muslim menuduh Muslim dari sebuah kelompok atau aliran lain sebagai kafir. Sehingga aksi kekerasan yang berawal dari tuduhan saling tuduh semakin marak akhir-akhir ini.

Mengkafirkan orang lain dimulai dari keyakinan berlebihan bahwa dialah yang paling benar. Akibatnya, segala sesuatu yang berbeda disalahkan, dikafirkan, disesatkan dan ditolak. Lebih fatal lagi, jika tindakan berlanjut dengan keyakinan bahwa orang-orang kafir harus dibunuh. 

Terbukti banyak aksi teror yang berlatar belakang paham takfiri. Godaan bidadari surga membuat para syuhada rela mengorbankan nyawanya. Mereka mabuk dan tersesat . Menyakiti diri sendiri demi sesuatu yang tidak jelas.

 

Kedua, hijrah.

Gerakan hijrah ini populer di kalangan anak muda, mulai dari kalangan selebriti hingga masyarakat biasa. Ini adalah gerakan untuk membuat orang mengubah gaya hidup. Mulai dari mengubah penampilan, cara berpakaian yang arab, mengedepankan hal-hal yang sunnah, dan menonjolkan amalan yang dianggap islami.

Pada tahap ini sebenarnya tidak ada masalah. Namun ketika hijrah lebih fokus pada sesuatu yang simbolik ironfat artinya hijrah akan bias. Apalagi jika dibarengi dengan mengabaikan, membuang kearifan lokal. Salahkan budaya lokal.

Anda boleh memakai topi putih tetapi apakah perlu menuduh orang menggunakan blankon sebagai syirik? Anda bisa memakai gamis atau gamis, tapi apa yang harus dibuang sarungnya? Pakaian kokoh?

 

Ketiga, label syariah.

Labelling biasa digunakan dalam kegiatan ekonomi seperti penamaan produk atau lainnya. Ada hotel syariah, rumah sakit syariah, perumahan syariah, koperasi syariah dan masih banyak lagi. Menjadi kurang bijak bila syariah hanya dijadikan sebagai penutup bisnis, untuk menarik simpati publik

Lebel syariah digunakan untuk penipuan seperti yang baru-baru ini terjadi, investasi PT Kampoeng Kurma yang menjanjikan hasil sesuai prinsip syariah. Menurut kajian MUI, cara bisnis dan investasi PT Kampoeng Kurma dinilai menerapkan sistem perjudian dan gharar (hoax). Apalagi, pelabelan syariah dilakukan secara liar, tanpa melalui proses penilaian, studi-studi sebelumnya.

 

Bagaimana menghadapinya?

Mengapa fenomena sosial di atas terjadi? Jawabannya, karena di Indonesia sekarang banyak orang yang mabuk agama. Yaitu mereka yang bermodalkan semangat, tidak mengutamakan ilmu dan akal sehat dalam menjalani kehidupan beragama. Ditambah fanatik . fanatik tentang agama adalah bentuk kegilaan yang membahayakan.

 Ingat Setan terkutuk dan celaka karena harga dirinya menganggap dirinya yang terbesar, paling cerdas, paling mulia dan paling benar. Kemudian hormati dan hargai perbedaan yang ada. Bukankah perbedaan dalam segala hal?

Selain itu pendalaman melanjutkan ilmu agama dengan baik dan benar. Tidak ingin dibatasi oleh sekat-sekat fanatisme kelompok atau golongan. Pandangan yang luas akan memudahkan untuk menghadirkan sikap toleransi. Dan gunakan akal sehat dalam menimbang setiap ilmu yang disajikan. Semangat mencari kebenaran. Jangan merasa pintar karena kamu bodoh. Jangan merasa benar karena ketika Anda merasa benar Anda salah.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Related Articles
About Author

Assalamualaikum wr wb, Perkenalkan nama saya Eli Maulana, saya tinggal di Boyolali, Jawa Tengah, hobi membaca, menggambar, dan menjomblo. Walaupun saya sangat tampan tapi tidak ada cewek yang naksir karena saya cenderung cuek, dingin dan suka bermalas-malasan. 🤭😅

Popular